Rabu, 16 Desember 2015
Untuk Wanitaku
Selasa, 24 Februari 2015
Aku ingin bebas
Aku Ingin Bebas
Saat aku bisu..
Sesaat mulutku bungkam
Seolah berat ingin mengatakan suatu hal serius
Saat itu pula semua lisan secara tiba tertahan di kerongkongan
Saat aku menangis pun bukan berarti aku lemah
Selama ini senjataku hanya diam dan diam
Tak ada lagi yang bisa ku lakukan selain diam
Walau demikian diam seringkali membuatku perih
Sendu seringkali ku rasa saat bulan berada tepat di atas kepalaku
Pilu seringkali menyapa kala rindu tak pernah mendapatkan balas
Ingin ku terlepas dari perihal yang membuat hatiku menganga demikian
Lara yang membuatku harus terus menumpahkan kristal bening air mata
Aku ingin bebas dari semua ini..
Tertawa yang benar – benar aku sedang merasa bahagia
Aku ingin bebas dari semua ini..
Perihal yang seringkali ku palsukan keasliannya
Luka
Setiap orang memiliki cara masing-masing dalam menyikapi patah hati. Menangislah, persilahkan dirimu untuk bersedih. Semua orang tahu bagaimana rasanya terluka. Semua orang tahu bagaimana rasanya patah hati. Jangan terburu-buru memakai topeng sebab itu hanya membuat lukamu semakin menganga. Lakukan apa yang biasa dilakukan oleh kebanyakan orang patah hati. Menangis di bawah bantal, lakukan jika memang itu dapat membuatmu tenang.
Sekiranya kamu mulai terbiasa untuk hidup sendiri tanpa dia di belakangmu, sesekali ukirlah senyum dari dua sisi bibirmu itu. Jangan terlalu lama menanam luka. Jangan terlalu lama menyembunyikan patah hati. Seperti halnya bunga. Satu bunga gugur, akan ada bunga-bunga yang lain yang lebih indah. Juga seperti halnya cinta. Akan ada cinta yang lebih bahagia dari cinta-cinta yang sebelumnya.
Lakukan hal yang sekiranya itu bisa membuatmu senang. Berkunjunglah ke tempat-tempat yang belum pernah kamu kunjungi. Sesering mungkinlah kamu bermain dengan teman-teman sekitar. Lewati detik demi detik dengan senyuman dan tawa. Ukir hari barumu dengan cerita penuh makna. Cukupkan dirimu yang sudah terlalu sering menangisi dirinya. Sudah saatnya kamu menemukan titik bahagia yang baru.
Tunjukan padanya bahwa kamu pun sudah bisa tanpa dirinya. Berilah sebuah senyum kemenangan, bukan lagi senyuman yang penuh kedustaan. Ubah wajah nanarmu dengan wajah merona bahagia. Ganti air matamu dengan tatapan penuh keceriaan. Beranilah untuk jatuh cinta kembali. Beranilah untuk membuka hati pada yang lain. Cinta tidak pernah menyakiti. Yang menyakiti, adalah dia yang tidak benar-benar mencintaimu.
Aku yang membisu
Seringkali mata kita bertemu di sudut suatu tempat. Berpapasan dengan percuma. Hanya tatapan yang terjadi beberapa detik. Lalu pergi berlalu begitu saja.
Dalam diamku tersimpan banyak lisan yang tertahan. Mulutku seakan bisu saat ingin menyapa. Bola mataku seakan berbicara pada langkahan kakimu. Pelankan langkahmu, bercengkeramalah denganku. Ku harap. Tapi semua belum juga terlaksana. Terlebih aku yang takut akan membuka mulut. Pun rasa sesal yang seringkali datang di kemudian menit.
Teruntuk semesta; pertemukan aku dengannya di kemudian hari. Buat ia menyapaku segera. Jikalau aku tidak bisa membuka mulut tuk membalas sapaannya, kutuklah aku menjadi seorang yang menderita akan cintanya. Begitu lemah diriku saat sedang menghadap pada insan yang ku cintai. Selalu saja mengurung lisan di ujung lidah yang kerapkali membuatku sesal.
Aku menulis pada kertas yang usang. Tentang cinta dan juga harapan. Beserta isi hati yang seringkali ku selipkan pada beberapa kata di dalamnya. Tersimpan rasa yang tidak ku pahami. Rasa keinginan tuk memilikimu demikian. Pun rasa takut yang masih menggentayangi pikiranku. Melalui tulisan, barangkali kamu akan paham. Tentang aku, juga hatiku. Semoga.
Teruntuk
Apa kabar, kamu? Sudahkah bisa kamu hidup masing – masing? Apa yang membuatmu berhasil menghapus luka lama? Siapa dan kemana labuhan hatimu sekarang? Oke. Tidak lah penting. Pun aku hanya ingin tau. Syukur kamu mendapatkan tempat yang lebih layak. Semoga, aamiin.
Teruntuk kamu. Kepada siapa hatimu berlabuh, itu bukan urusanku. Apa yang membuatmu berhasil menghapus luka lama pun juga bukan urusanku. Aku tau, semua orang berhak melupakan yang lalu. Mungkin itulah yang ada di pikiranmu pada saat kita memilih untuk berpisah. Aku juga tau, semua orang pengin bahagia. Mungkin itu juga yang terlintas dalam pikiranmu saat kenyataan harus memisahkan dua insan yang sedang dimabuk cinta. Sejujurnya, aku hanya ingin mengenang tentang “kita”. Sebutan kata penyatu yang pernah ada antara aku dan kamu. Dulu. Saat – saat indah detik yang ku lewati terasa begitu berarti. Yang sekarang sudah menjadi buku bekas yang mungkin akan kamu buang.
Teruntuk dia. Kau beruntung memilikinya. Aku bahagia bersamanya dulu. Aku yakin kau pun begitu. Merasakan kebahagiaan yang dulu pernah aku rasakan saat bersamanya. Selalu ada cara untuk menunjukan cintanya. Selalu ada akal untuk membuat orang yang ia sayang terpukau. Entah anugerah apa yang tuhan berikan padanya. Seolah menjadi seseorang yang pandai dalam hal memikat hati. Setia pula. Bagaimana aku tidak mabuk akan di buatnya.
Dan teruntuk masa lalu. Terima kasih akan detik, menit, jam, bahkan hari yang pernah tuhan beri padaku untuk kami lewati bersama. Tuhan begitu baik. Hanya saja, aku tau, selalu akan ada tepi saat kapal berlayar di laut bebas. Lalu pada saat itu juga, saat yang tepat penumpang akan turun dan meninggalkan jejak di sana. Kita pernah bersama dalam kapal yang begitu besar. Berlayar dengan waktu yang terbilang sangat lama. Pun ombak yang seringkali mengguncang tapi kita tetap kekal. Dengan tujuan ingin tetap satu kapal bersamamu, tapi luasnya laut pun ada ujungnya juga. Entah ke mana aku akan berlabuh. Aku tidak bisa mengendalikan ombak. Seringkali aku jatuh di sana. Sendiri, tenggelam bersama luka. Tempat yang pernah kita jejaki dan tinggali bersama, kini hanya bayang yang tersisa.
Izinkan aku mengenangmu. Merindukanmu, dan sesekali berharap akan kepulanganmu. Oh ya, harapkecilku selalu mengatakan akan dirimu. Pulanglah jika kamu ingin pulang. Dengan senang hati aku menyambut dan kembali berlayar bersamamu. Jika kamu ingin. Jikalau tak ingin pun, tetaplah di sana. Kebahagiaan akan datang padaku kelak. Semoga, Aamiin.
Selasa, 10 Februari 2015
Dia
Dia pernah memberimu segelintir kebahagiaan. Dia pernah ada untukmu. Dia pernah menjadi alasan mengapa hari –harimu begitu indah. Tapi dia, bukanlah dia yang dulu. Dia memanglah tetap menjadi dia. Tapi dia yang kau kenal, bukan dia yang menyayangimu. Dia yang kini bahagia dengan dunia barunya. Juga dia yang sudah bisa tanpamu dalam keseharian-nya. Sedangkan kau masih tetap berharap dia kembali.
Senyumnya masih bisa kau lihat. Dari dekat, atau pun dari jarak yang begitu jauh. Kau tak akan bisa melupakan hal itu. Hal sederhana yang terus mengiang dan mengambang dalam ingatanmu. Perihal senyum, tawa, segala sifat atau pun sikap memang biasa. Tapi dia memberikan dengan warna yang berbeda. Yang membuatmu berani menilai kalau mungkin tidak ada orang yang seperti dia. Bukan begitu?
Memang, ada kala di mana kita harus kehilangan dia. Sebab pertemuan tak bisa berjanji untuk saling mengabdi dan bersama selamanya. Dia akan pergi. Sampai waktu yang tepat, entah kapan, pasti dia akan meninggalkanmu sendiri bersama luka juga kisah manis yang pernah kau ukir. Tata hatimu yang kini berkeping. Seka semua air mata yang sudah terlanjur tumpah.
Kepada dia, ucapkanlah terima kasih. Kau belajar tentang menyayangi seseorang dengan tulus. Walau pada akhirnya kau akan tau dengan sendirinya, sesayang apa pun kau dengan dia, dengan siapa pun, kau akan tetap berada pada titik kehilangan yang entah kapan kan menjemput. We’ll get move on. Bahagiakan dia selagi dia masih menjadi milikmu sekarang. Meski nanti ketika kau di pisahkan oleh waktu, coba kenanglah dia dengan hati yang paling dalam. Tanpa air mata.
Rabu, 07 Januari 2015
Di sia siakan
Terkadang, suka heran dengan orang yang mengabaikan atau menyia-nyiakan seseorang dengan sebegitu enaknya. Mengabaikan seseorang yang padahal orang yang di abaikan itu serius sayang dengan dirinya. Apa orang yang seperti itu tidak pernah merasakan bagaimana rasanya di buang di sia – siakan begitu saja? Apa ia tidak pernah berpikir, bilamana nanti hal itu akan berbalik pada dirinya? Berbalik di sia – siakan oleh orang lain. Oleh orang yang sangat ia cintai. Karena sejatinya, karma tidak pernah lepas dari apa yang sudah ia perbuat.
Oke, setiap orang, atau mungkin semua orang, pasti pernah merasakan bagaimana sakitnya di sia-siakan. Bagaimana sakitnya dibuang oleh orang yang sangat ia cintai begitu saja. Saat seperti itu, wajar jika kau sulit untuk menerima kenyataan. Yang kau tau, kalian saling menyayangi. Yang kau tau, kalian saling peduli dan saling perhatian. Yang kau tau, dia hanya menetapkan 1 nama saja. Ya, “yang kau tau”.
Tapi, ya begitulah hati. Tidak akan pernah tau kemana ia akan berlabuh. Terkadang, yang sudah menemukan tempat singgah saja, bisa berubah arah labuhnya, apalagi jika ia mulai menemukan tempat singgah baru yang lebih indah dan lebih nyaman dari tempat yang lama. Lalu sampai pada akhirnya dia pergi begitu saja di saat kau sedang ada pada titik puncak kasih sayang paling tinggi.
Kau merasa sakit? Merasa paling menderita? Wajar. Manusiawi. Di sia – siakan adalah hal yang paling menyakitkan. Saat kau menoleh ke belakang, kau melihat kenangan yang indah bersama dia. Ada banyak senyum, canda dan tawa yang menghiasi otak. Tapi, saat seperti itu juga, saat ia menyia – nyiakan kau begitu saja, kau tidak seharusnya untuk terus ada di titik penderitaan itu dengan waktu yang lama. Kau harus bisa menerima kenyataan pahit bahwa sanya ia tidak lagi menyayangimu seperti dulu dan dia memilih menyia – nyiakanmu yang ia pikir mungkin itu cara satu – satunya.
Ah, tapi, biarlah. Tidak ada gunanya juga kau memperjuangkan orang yang sudah menyia – nyiakanmu. Tidak ada gunanya juga kau menaruh hati padanya. Ia sudah menemukan tempat yang lebih nyaman. Kau? Di buang dan di biarkan begitu saja. Sakit? Oke, faham rasanya seperti apa. Lihat sejauh mana ia singgah di tempat yang baru. Jangan di pikirkan. Dia saja tidak memirkanmu. Nanti, entah kapan, ada saatnya dia tau, bahwa kaulah orang yang paling menyayanginya tulus.
Perkataan Hati
Aku bisa saja pergi. Meninggalkanmu, mencari titik kebahagiaan yang lain, memulai semuanya dari Nol. Tapi, aku bukan orang yang seperti itu. Bukan orang yang mundur saat harus terus benar – benar di suruh berjuang. Saat waktu memaksaku untuk terus maju. Terus berusaha memilikimu.
Tak peduli dengan apa yang kamu lakukan. Segala respon, aku terima. Segala balasan singkat chat-mu pun, aku terima. Sakit memang. Padahal, aku hanya ingin memerhatikanmu. Kamu memerhatikanku. Se-sederhana itu. Tapi, jika memang kamu tak lagi sayang atau sedang bosan, wajarlah jika kamu bersikap seperti itu. Aku faham.
Bukan alasan bagiku untuk mundur. Yang aku tau, sebagian besar cinta adalah perjuangan. Mungkin ini penunjukan diriku bahwa aku sedang berjuang. Sedang berusaha menekukkan hatimu. Beberapa orang, mungkin memilih mundur. Memilih pergi karena mereka tak kuat. Tenanglah—“ selagi aku masih bisa berdiri tegak, mekokohkan hatiku tuk menetapkan namamu, aku akan terus berjuang. Aku percaya, perasaan bisa berubah – ubah kapan saja. Mungkin, ini yang sedang kamu rasakan; perubahan rasa terhadapku.
Oh ya, saat seperti ini, saat kamu merasa bosan denganku, aku izinkan kamu untuk mencari dunia baru. Maksudnya, mencari hal yang bisa membuat kamu tak merasa bosan lagi. Mencari kesibukan atau hobby baru, mungkin. Aku hanya tak ingin kamu terpaksa membalas semua pesan singkat ku hanya karena kasihan. Tak enak di aku, juga kamu. Tapi, tolong jaga hati ini, masih ada satu nama yang senantiasa menunggumu kembali seperti dulu.
Oke , kita bukan siapa - siapa
Beberapa orang ada yang tiba – tiba murung. Marah karena tidak di kabari seharian, ada yang seperti itu. Bahkan banyak. Tapi, saat melakukan hal itu, marah atau murung ketika tidak berkabar, lebih baik berkaca terlebih dulu. Siapa orang yang kamu murungi, siapa juga orang yang kamu marahi.
Mungkin mereka yang memiliki status resmi, status berpacaran, wajar jika mereka marah jika sang pemilik hati menghilang begitu saja. Manusiawi. Tapi, lain hal dengan orang yang tidak memiliki status. Orang yang bukan siapa – siapanya. Mau marah ketika dia tidak berkabar, sepertinya aneh. Iyalah! Bukan siapa – siapanya! Sakit, kah? Kesal, wajar. Tapi, di sisi lain bukan siapa – siapanya. Tidak memiliki hak. Ah!
Lelah dalam menunggu, itu pasti. Bosan-nya lagi ketika menunggu sesuatu yang tidak pasti. Atau bahkan, tidak akan pernah pasti. Syukur – syukur ingat. Kalau tidak, hanya bisa menghela nafas dalam – dalam. Di hembuskan perlahan, yang secara tiba di iringi rintik hujan air mata. Ingin mencari, ingin marah ketika menghilang, sepertinya itu bukan hal yang wajar bagi insan yang tidak memiliki status resmi.
Oke, kita bukan siapa – siapa. Mungkin, bagimu, kita hanyalah sebatas teman biasa. Saya tidak bisa mengatakan “Tolong, stop bikin saya merindukanmu”. Tidak bisa saya berkata seperti itu. Yang saya tau, rindu itu datang dan ada dengan sendirinya. Manusiawi, kan, saat merindukan orang yang sudah masuk ke dalam dunianya? Paling – paling, saat kamu menghilang, saat kamu tidak berkabar, saya diam dan tenggelam bersama rindu. Ya, seperti itulah kira – kira.