Seseorang tak pernah lepas dari hal menunggu. Apa pun itu. Saat ingin membeli pesanan makanan pun, ia terlebih dulu harus menunggu. Begitu juga dengan hati. Dengan seseorang yang ia suka. Ia harus menunggu kapan waktu yang tepat akan tiba. Kapan waktu yang tepat untuk di perbicarakan; sebuah omongan yang jujur dari hati.
Jika kamu faham tentang penungguan, kamu pun pasti tau tentang seberapa lelahnya itu semua. Juga tentang segimana lelahnya berjuang. Lelahnya mencari. Saat seperti itu, kamu akan berfikir dua kali saat ingin melepas seseorang. Bukan hanya dua kali, bahkan berpuluh kali. Saat kamu throwback tentang dia, kamu akan ingat saat itu kamu mendapatkan dia dengan susah. Dengan rintangan yang tidak sedikit.
Beberapa orang sedang berjuang. Namun, beberapa orang juga sedang mempersiapkan kepulangan dirinya dengan tangan kosong. Ya, pulang dengan harapan dan goresan yang menganga. Mereka pulang karena mereka berfikir—“orang yang mereka perjuangkan tak kan mereka dapatkan. Tak kan dapat mereka miliki. Mereka bilang seperti itu.
Memperjuangkan tak memandang wanita atau pun pria. Saat ia serius dengan satu nama, dengan cara apa pun mereka akan lakukan bahkan dengan penungguan yang lama sekali pun. Bersabarlah saat sedang berjuang. Terkadang, bisikan selalu datang dari belakang. Menyuruhmu untuk pulang. Mundur dari peperangan dengan luka yang menganga.
Berjuang atau pun menunggu itu harus tau waktu. Harus tau kapan waktunya kamu untuk pergi. Bukan mengaku kalah, tapi saat sedang berjuang, kamu tak bisa selamanya untuk terus ada di titik berjuang itu sendiri. Kamu pun pasti ingin bahagia. Kamu harus tau kapan waktu yang tepat untuk pergi. Kapan waktumu untuk mencari titik kebahagiaan yang lain. Kebahagiaan itu tak datang dari satu titik. Mungkin, di sana, ada seseorang yang sedang menunggumu tulus. Tapi kamu lebih fokus memperjuangkan orang yang tak memperjuangkanmu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar