Selasa, 24 Februari 2015

Aku ingin bebas


Aku Ingin Bebas

Saat aku bisu..

Sesaat mulutku bungkam

Seolah berat ingin mengatakan suatu hal serius

Saat itu pula semua lisan secara tiba tertahan di kerongkongan

Saat aku menangis pun bukan berarti aku lemah

Selama ini senjataku hanya diam dan diam

Tak ada lagi yang bisa ku lakukan selain diam

Walau demikian diam seringkali membuatku perih

Sendu seringkali ku rasa saat bulan berada tepat di atas kepalaku

Pilu seringkali menyapa kala rindu tak pernah mendapatkan balas

Ingin ku terlepas dari perihal yang membuat hatiku menganga demikian

Lara yang membuatku harus terus menumpahkan kristal bening air mata

Aku ingin bebas dari semua ini..

Tertawa yang benar – benar aku sedang merasa bahagia

Aku ingin bebas dari semua ini..

Perihal yang seringkali ku palsukan keasliannya

Luka

Setiap orang memiliki cara masing-masing dalam menyikapi patah hati. Menangislah, persilahkan dirimu untuk bersedih. Semua orang tahu bagaimana rasanya terluka. Semua orang tahu bagaimana rasanya patah hati. Jangan terburu-buru memakai topeng sebab itu hanya  membuat lukamu semakin menganga. Lakukan apa yang biasa dilakukan oleh kebanyakan orang patah hati. Menangis di bawah bantal, lakukan jika memang itu dapat membuatmu tenang.

Sekiranya kamu mulai terbiasa untuk hidup sendiri tanpa dia di belakangmu, sesekali ukirlah senyum dari dua sisi bibirmu itu. Jangan terlalu lama menanam luka. Jangan terlalu lama menyembunyikan patah hati. Seperti halnya bunga. Satu bunga gugur, akan ada bunga-bunga yang lain yang lebih indah. Juga seperti halnya cinta. Akan ada cinta yang lebih bahagia dari cinta-cinta yang sebelumnya.

Lakukan hal yang sekiranya itu bisa membuatmu senang. Berkunjunglah ke tempat-tempat yang belum pernah kamu kunjungi. Sesering mungkinlah kamu bermain dengan teman-teman sekitar. Lewati detik demi detik dengan senyuman dan tawa. Ukir hari barumu dengan cerita penuh makna. Cukupkan dirimu yang sudah terlalu sering menangisi dirinya. Sudah saatnya kamu menemukan titik bahagia yang baru.

Tunjukan padanya bahwa kamu pun sudah bisa tanpa dirinya. Berilah sebuah senyum kemenangan, bukan lagi senyuman yang penuh kedustaan. Ubah wajah nanarmu dengan wajah merona bahagia. Ganti air matamu dengan tatapan penuh keceriaan. Beranilah untuk jatuh cinta kembali. Beranilah untuk membuka hati pada yang lain. Cinta tidak pernah menyakiti. Yang menyakiti, adalah dia yang tidak benar-benar mencintaimu.

Aku yang membisu


Seringkali mata kita bertemu di sudut suatu tempat. Berpapasan dengan percuma. Hanya tatapan yang terjadi beberapa detik. Lalu pergi berlalu begitu saja.

Dalam diamku tersimpan banyak lisan yang tertahan. Mulutku seakan bisu saat ingin menyapa. Bola mataku seakan berbicara pada langkahan kakimu. Pelankan langkahmu, bercengkeramalah denganku. Ku harap. Tapi semua belum juga terlaksana. Terlebih aku yang takut akan membuka mulut. Pun rasa sesal yang seringkali datang di kemudian menit.

Teruntuk semesta; pertemukan aku dengannya di kemudian hari. Buat ia menyapaku segera. Jikalau aku tidak bisa membuka mulut tuk membalas sapaannya, kutuklah aku menjadi seorang yang menderita akan cintanya. Begitu lemah diriku saat sedang menghadap pada insan yang ku cintai. Selalu saja mengurung lisan di ujung lidah yang kerapkali membuatku sesal.

Aku menulis pada kertas yang usang. Tentang cinta dan juga harapan. Beserta isi hati yang seringkali ku selipkan pada beberapa kata di dalamnya. Tersimpan rasa yang tidak ku pahami. Rasa keinginan tuk memilikimu demikian. Pun rasa takut yang masih menggentayangi pikiranku. Melalui tulisan, barangkali kamu akan paham. Tentang aku, juga hatiku. Semoga.

Teruntuk

Apa kabar, kamu? Sudahkah bisa kamu hidup masing – masing? Apa yang membuatmu berhasil menghapus luka lama? Siapa dan kemana labuhan hatimu sekarang? Oke. Tidak lah penting. Pun aku hanya ingin tau. Syukur kamu mendapatkan tempat yang lebih layak. Semoga, aamiin.

Teruntuk kamu. Kepada siapa hatimu berlabuh, itu bukan urusanku. Apa yang membuatmu berhasil menghapus luka lama pun juga bukan urusanku. Aku tau, semua orang berhak melupakan yang lalu. Mungkin itulah yang ada di pikiranmu pada saat kita memilih untuk berpisah. Aku juga tau, semua orang pengin bahagia. Mungkin itu juga yang terlintas dalam pikiranmu saat kenyataan harus memisahkan dua insan yang sedang dimabuk cinta. Sejujurnya, aku hanya ingin mengenang tentang “kita”. Sebutan kata penyatu yang pernah ada antara aku dan kamu. Dulu. Saat – saat indah detik yang ku lewati terasa begitu berarti. Yang sekarang sudah menjadi buku bekas yang mungkin akan kamu buang.

Teruntuk dia. Kau beruntung memilikinya. Aku bahagia bersamanya dulu. Aku yakin kau pun begitu. Merasakan kebahagiaan yang dulu pernah aku rasakan saat bersamanya. Selalu ada cara untuk menunjukan cintanya. Selalu ada akal untuk membuat orang yang ia sayang terpukau. Entah anugerah apa yang tuhan berikan padanya. Seolah menjadi seseorang yang pandai dalam hal memikat hati. Setia pula. Bagaimana aku tidak mabuk akan di buatnya.

Dan teruntuk masa lalu. Terima kasih akan detik, menit, jam, bahkan hari yang pernah tuhan  beri padaku untuk kami lewati bersama. Tuhan begitu baik. Hanya saja, aku tau, selalu akan ada tepi saat kapal berlayar di laut bebas. Lalu pada saat itu juga, saat yang tepat penumpang akan turun dan meninggalkan jejak di sana. Kita pernah bersama dalam kapal yang begitu besar. Berlayar dengan waktu yang terbilang sangat lama. Pun ombak yang seringkali mengguncang tapi kita tetap kekal. Dengan tujuan ingin tetap satu kapal bersamamu, tapi luasnya laut pun ada ujungnya juga. Entah ke mana aku akan berlabuh. Aku tidak bisa mengendalikan ombak. Seringkali aku jatuh di sana. Sendiri, tenggelam bersama luka. Tempat yang pernah kita jejaki dan tinggali bersama, kini hanya bayang yang tersisa.

Izinkan aku mengenangmu. Merindukanmu, dan sesekali berharap akan kepulanganmu. Oh ya, harapkecilku selalu mengatakan akan dirimu. Pulanglah jika kamu ingin pulang. Dengan senang hati aku menyambut dan kembali berlayar bersamamu. Jika kamu ingin. Jikalau tak ingin pun, tetaplah di sana. Kebahagiaan akan datang padaku kelak. Semoga, Aamiin.

Selasa, 10 Februari 2015

Dia

Dia pernah memberimu segelintir kebahagiaan. Dia pernah ada untukmu. Dia pernah menjadi alasan mengapa hari –harimu begitu indah. Tapi dia, bukanlah dia yang dulu. Dia memanglah tetap menjadi dia. Tapi dia yang kau kenal, bukan dia yang menyayangimu. Dia yang kini bahagia dengan dunia barunya. Juga dia yang sudah bisa tanpamu dalam keseharian-nya. Sedangkan kau masih tetap berharap dia kembali.

Senyumnya masih bisa kau lihat. Dari dekat, atau pun dari jarak yang begitu jauh. Kau tak akan bisa melupakan hal itu. Hal sederhana yang terus mengiang dan mengambang dalam ingatanmu. Perihal senyum, tawa, segala sifat atau pun sikap memang biasa. Tapi dia memberikan dengan warna yang berbeda. Yang membuatmu berani menilai kalau mungkin tidak ada orang yang seperti dia. Bukan begitu?

Memang, ada kala di mana kita harus kehilangan dia. Sebab pertemuan tak bisa berjanji untuk saling mengabdi dan bersama selamanya. Dia akan pergi. Sampai waktu yang tepat, entah kapan, pasti dia akan meninggalkanmu sendiri bersama luka juga kisah manis yang pernah kau ukir. Tata hatimu yang kini berkeping. Seka semua air mata yang sudah terlanjur tumpah.

Kepada dia, ucapkanlah terima kasih. Kau belajar tentang menyayangi seseorang dengan tulus. Walau pada akhirnya kau akan tau dengan sendirinya, sesayang apa pun kau dengan dia, dengan siapa pun, kau akan tetap berada pada titik kehilangan yang entah kapan kan menjemput. We’ll get move on. Bahagiakan dia selagi dia masih menjadi milikmu sekarang. Meski nanti ketika kau di pisahkan oleh waktu, coba kenanglah dia dengan hati yang paling dalam. Tanpa air mata.