Apa kabar, kamu? Sudahkah bisa kamu hidup masing – masing? Apa yang membuatmu berhasil menghapus luka lama? Siapa dan kemana labuhan hatimu sekarang? Oke. Tidak lah penting. Pun aku hanya ingin tau. Syukur kamu mendapatkan tempat yang lebih layak. Semoga, aamiin.
Teruntuk kamu. Kepada siapa hatimu berlabuh, itu bukan urusanku. Apa yang membuatmu berhasil menghapus luka lama pun juga bukan urusanku. Aku tau, semua orang berhak melupakan yang lalu. Mungkin itulah yang ada di pikiranmu pada saat kita memilih untuk berpisah. Aku juga tau, semua orang pengin bahagia. Mungkin itu juga yang terlintas dalam pikiranmu saat kenyataan harus memisahkan dua insan yang sedang dimabuk cinta. Sejujurnya, aku hanya ingin mengenang tentang “kita”. Sebutan kata penyatu yang pernah ada antara aku dan kamu. Dulu. Saat – saat indah detik yang ku lewati terasa begitu berarti. Yang sekarang sudah menjadi buku bekas yang mungkin akan kamu buang.
Teruntuk dia. Kau beruntung memilikinya. Aku bahagia bersamanya dulu. Aku yakin kau pun begitu. Merasakan kebahagiaan yang dulu pernah aku rasakan saat bersamanya. Selalu ada cara untuk menunjukan cintanya. Selalu ada akal untuk membuat orang yang ia sayang terpukau. Entah anugerah apa yang tuhan berikan padanya. Seolah menjadi seseorang yang pandai dalam hal memikat hati. Setia pula. Bagaimana aku tidak mabuk akan di buatnya.
Dan teruntuk masa lalu. Terima kasih akan detik, menit, jam, bahkan hari yang pernah tuhan beri padaku untuk kami lewati bersama. Tuhan begitu baik. Hanya saja, aku tau, selalu akan ada tepi saat kapal berlayar di laut bebas. Lalu pada saat itu juga, saat yang tepat penumpang akan turun dan meninggalkan jejak di sana. Kita pernah bersama dalam kapal yang begitu besar. Berlayar dengan waktu yang terbilang sangat lama. Pun ombak yang seringkali mengguncang tapi kita tetap kekal. Dengan tujuan ingin tetap satu kapal bersamamu, tapi luasnya laut pun ada ujungnya juga. Entah ke mana aku akan berlabuh. Aku tidak bisa mengendalikan ombak. Seringkali aku jatuh di sana. Sendiri, tenggelam bersama luka. Tempat yang pernah kita jejaki dan tinggali bersama, kini hanya bayang yang tersisa.
Izinkan aku mengenangmu. Merindukanmu, dan sesekali berharap akan kepulanganmu. Oh ya, harapkecilku selalu mengatakan akan dirimu. Pulanglah jika kamu ingin pulang. Dengan senang hati aku menyambut dan kembali berlayar bersamamu. Jika kamu ingin. Jikalau tak ingin pun, tetaplah di sana. Kebahagiaan akan datang padaku kelak. Semoga, Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar